Katakan Tidak pada LGBT, Perilaku Menyimpang dan Penyakit Mental 

Di Indonesia, fakta di era modern seperti saat ini, pelaku penyimpangan tidak lagi risih dan sudah terbiasa dengan penyimpangan mereka. Seakan perilaku LGBT ini sudah dilegalkan.

LGBT sebenarnya sangat dilarang keras oleh agama, hukum, adat istiadat di Indonesia. Namun, trend dan gaya hidup di masa millenial saat ini seolah-olah menjadi alasan mereka untuk memperlihatkan jati diri mereka. Penyebaran LGBT di Indonesia terbilang begitu cepat. Banyak kita jumpai pelaku LGBT ditempat-tempat umum, seperti di; mall, cafe, jogging area, dlsb..

Penyebab terjadinya pelaku menyimpang LGBT dari asosiasi Ilmuan, seperti American Academy of Pediatrics (AAP) dan American Psychological Association (APA) berpendapat: orientasi seksual merupakan kombinasi yang melibatkan banyak faktor. Diantaranya adalah: faktor lingkungan, faktor mudahnya dalam mengakses pornografi, dan psikologis.

Hal yang sangat tidak disangka-sangka adalah adanya informasi bahwa ketua LGBT ini ternyata berasal dari Riau.

Dikutip dari media online; “Saya bahkan dapat informasi, Ketua LGBT Indonesia itu berasal dari Riau. Ini sangat memalukan kita sebagai orang Melayu,” rutuk Syamsuar saat menyampaikan sambutan pada Gerakan Salat Subuh Berjamaah (GSSB), Ahad (20/11/2022) pagi di Masjid Raya Nurul Wathan Provinsi Riau, Jalan Siak II, Kelurahan Sri Meranti, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru.

Lebih lanjut, Neuro psikolog dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ihshan Gumilar menegaskan: lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) ialah penyakit mental. “LGBT adalah penyakit mental dan bukan disebabkan oleh faktor biologis atau bawaan lahir”. ujarnya saat forum Koordinasi anggota Gugus Tugas Pencegahan serta Penanganan Pornografi (GTP3) bertema Pornografi dan LGBT, Kementerian PPPA.

“Artinya, terdapat peristiwa yang membuat seseorang menjadi LGBT,” ujar Ihshan, dalam keterangan tertulis di laman Psikologi Universitas Medan Area, dikutip pada Kamis (5/1/2023).

Ihshan kembali menegaskan, perilaku LGBT bukan bawaan lahir dan dapat disembuhkan. “Asal penderitanya berkonsultasi dan berobat di psikolog yang benar serta (memiliki kesadaran) tak mendukung LGBT,” ucapnya.(Kharisma Sekarini)

Mungkin Anda Menyukai